Glagah Green Space

Bertitik tolak dari permasalahan lingkungan yang dialami oleh pesisir pantai glagah dimana ada penggusuran lahan oleh adanya pembangunan bandara kulonprogo yang mengakibatkan kurangnya ruang terbuka hijau diantarnya pepohonan, perkebunan dan lain sebagainya, sehingga itu konsep pengembangan harusnya diarahkan untuk keberlanjutan lingkungan sebagai paruh-paruh kota yaitu ruang terbuka hijau (RTH) yang memberikan eksternalitas positif, pengembangan ruang Terbuka Hijau ini sebagai taman yang didukung oleh elemen-elemen seperti linkage (jalur/jalan), void (ruang terbuka) dan sedikitnya solid (bangunan) sebagai kebutuhan pelengkap setempat. Dalam kajian wilayah yang lebih luas akan terjadinya aktifitas yang begitu pesat dengan hadirnya bandara baru DIY sebagai pintu masuk baru kota jokja dari arah barat ini, sehingga upaya pengembangan prencanaan tapak ini yang berdekatan langsung dengan lokasi pembangunan bandara akan diupayakan supaya terintegrasi secara spasial antara kedua kawasan sehingga interaksi yang berada dikawasan ruang tebuka hijau mendukung aktifitas yang ada di bandara dan pariwisata setempat.

Glagah Green Space (GGS) merupakan judul atau nama bagi tapak di dikawasan yangakan direncanakan, sebagai tapak yang akan melayani dua kegiatan yaitu aktifitas disekitar bandara dan aktifitas pariwisata dipantai glagah oleh kerena itu pengembangan ruang terbuka hijau merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi suhu atau temperature yang ditimbulkan dari kegiatan maupun alami, seperti banyaknya aktifitas kendaraan bermotor sehingga menimbulkan polusi baik yang pengunjung pariwisata, aktifitas bandara dan terik matahari di pantai glagah yang cukup panas, tentunya hal ini akan dirasakan sendiri nanti oleh orang yang beraktifitas disini oleh kerena itu upaya perencanaan tapak Glagah Green Space menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. Dalam pengertian yang lebih umum kawasan ini dikembangkan sebagai tempat peneduh, tempat istirahat, tempat santai yang akan dilengkapai dengan kebutuhan seperti tempat duduk dibawah pohon, jalur pejalan kaki, pondok yang terbuka yang dicirikan oleh budaya jogja, nama ilmiah tanaman dan pepohonan sebagai media pembelajaran, fasilitas pelengkap seperti toilet dan lain sebagainya.

Laporan 1    Laporan 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *